"Marhaposan tu Jahowa ma ho sian nasa roham, jala unang marpangunsandean ho tu pingkiranmu sandiri"."Trust in the LORD with all your heart, and do not lean on your own understanding". (Amsal 3:5)

Sabtu, 17 Oktober 2026

Dipanggil dan dipilih Allah : 2 Petrus 1:3-11

 


Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus!

Pernahkah kita melihat seorang petani yang sedang memilih bibit untuk ditanam di ladangnya?

Seorang petani yang bijaksana tidak mengambil semua bibit tanpa memeriksanya. Ia memperhatikan bibit yang akan ditanam. Setelah memilih bibit yang baik, ia tidak berhenti sampai di situ. Bibit itu harus ditanam di tanah yang sesuai, disiram, dibersihkan dari rumput liar, dan dirawat dengan tekun. Mengapa? Karena bibit yang baik sekalipun tidak akan menghasilkan buah yang diharapkan apabila dibiarkan begitu saja.

Saudara-saudara, dari ilustrasi sederhana ini kita belajar bahwa memilih dan memelihara adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sesuatu yang telah dipilih perlu dirawat supaya bertumbuh dan menghasilkan buah.

Demikian juga dengan kehidupan iman kita. Kita sering mendengar bahwa kita adalah orang-orang yang dipanggil dan dipilih Allah. Betapa besar kasih karunia itu! Allah memanggil kita untuk mengenal-Nya, menerima keselamatan di dalam Yesus Kristus, dan hidup menurut kehendak-Nya.

Namun, ada pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: Kalau kita sudah dipanggil dan dipilih Allah, apakah kehidupan kita sudah menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh hidup sebagai milik-Nya?

Apakah suami semakin mengasihi istrinya? Apakah istri semakin menghormati suaminya? Apakah orang tua semakin sabar mendidik anak-anaknya? Apakah anak-anak semakin menghormati orang tuanya? Apakah kita semakin jujur dalam pekerjaan, semakin peduli terhadap sesama, dan semakin setia beribadah kepada Tuhan?

Jangan sampai kita rajin menyebut diri sebagai orang percaya, tetapi sikap hidup kita justru membuat orang lain sulit melihat kasih Kristus di dalam diri kita.

Ada humor kecil yang dapat kita renungkan. Seorang jemaat berkata, “Saya ini orang Kristen yang sabar. Saya selalu sabar selama tidak ada orang yang menguji kesabaran saya!”

Saudara-saudara, kita tersenyum mendengarnya. Tetapi bukankah kadang-kadang kita juga seperti itu? Kita merasa sabar selama semua orang mengikuti kemauan kita. Kita merasa mengasihi selama tidak ada yang menyakiti hati kita. Padahal, karakter Kristus justru perlu terlihat ketika kita menghadapi keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Karena itu, firman Tuhan hari ini mengajak kita bukan hanya bersukacita karena dipanggil dan dipilih Allah, tetapi juga bertumbuh menjadi pribadi yang hidup sesuai dengan panggilan tersebut.

Marilah kita membuka hati dan merenungkan firman Tuhan dengan tema:

“Dipanggil dan Dipilih Allah.”

LATAR BELAKANG

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan!

Sebelum kita membahas isi firman Tuhan, kita perlu memahami latar belakang surat ini.

Surat 2 Petrus memperkenalkan penulisnya sebagai Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus. Surat ini ditujukan kepada orang-orang yang telah menerima iman yang sama berharganya melalui kebenaran Allah dan Juruselamat Yesus Kristus.

Pada bagian awal surat, Petrus mengingatkan para pembacanya bahwa kehidupan Kristen tidak cukup hanya dimulai dengan percaya kepada Tuhan. Iman itu harus terus bertumbuh dan menghasilkan kehidupan yang berkenan kepada Allah.

Surat ini juga memperingatkan jemaat tentang bahaya ajaran yang menyesatkan dan kehidupan yang tidak sesuai dengan kebenaran. Oleh karena itu, Petrus menekankan pentingnya mengenal Tuhan dengan benar, hidup dalam kesalehan, serta bertumbuh dalam karakter yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kita perlu memahami bahwa 2 Petrus 1:3–11 bukanlah ajakan supaya manusia memperoleh keselamatan dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Sebaliknya, Petrus terlebih dahulu menegaskan bahwa Allah telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk kehidupan yang saleh melalui pengenalan akan Kristus.

Dari pemberian Allah itulah orang percaya dipanggil untuk bertumbuh dalam iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara seiman, dan kasih kepada semua orang. Jadi, urutan pesannya sangat jelas: Allah lebih dahulu memberikan kasih karunia-Nya, kemudian orang percaya dipanggil untuk merespons kasih karunia itu melalui kehidupan yang terus bertumbuh. Inilah hubungan langsung antara nats dan tema kita. Kita dipanggil dan dipilih bukan supaya kita merasa lebih tinggi daripada orang lain, melainkan supaya kita hidup dalam kasih karunia Allah dan menunjukkan buah iman melalui perkataan, sikap, serta perbuatan kita.

 ISI KHOTBAH

1. Allah telah memberikan segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup dalam kesalehan

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan!

Ayat 3 menegaskan bahwa kuasa ilahi Allah telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh melalui pengenalan akan Dia yang telah memanggil kita oleh kuasa dan kemuliaan-Nya. Perhatikan baik-baik: Petrus tidak memulai dengan menyuruh manusia melakukan banyak hal. Ia memulai dengan menunjukkan apa yang telah Allah berikan.

Artinya, kehidupan Kristen bukan dimulai dari kesanggupan manusia, melainkan dari anugerah Allah.

Kita dapat datang kepada Tuhan bukan karena kita sudah sempurna, bukan karena kita tidak pernah berdosa, dan bukan karena kita lebih baik daripada orang lain. Kita datang kepada Tuhan karena Dia mengasihi kita dan menyediakan jalan keselamatan melalui Yesus Kristus.

Allah memanggil manusia untuk mengenal-Nya. Panggilan itu bukan hanya panggilan untuk mengetahui nama Tuhan atau mengetahui isi Alkitab, tetapi panggilan untuk memiliki hubungan yang benar dengan-Nya.

Mengenal Tuhan berarti belajar memahami kehendak-Nya, mempercayai janji-Nya, dan bersedia mengarahkan kehidupan kita sesuai dengan firman-Nya.

Ayat 4 kemudian menjelaskan bahwa melalui janji-janji Allah yang berharga dan sangat besar, orang percaya mendapat bagian dalam kodrat ilahi serta terlepas dari kebinasaan yang disebabkan oleh keinginan duniawi yang merusak.

Ungkapan “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” bukan berarti manusia berubah menjadi Allah. Maksudnya, melalui karya dan anugerah Allah, orang percaya dibawa ke dalam kehidupan yang diperbarui, sehingga semakin mencerminkan kekudusan dan karakter-Nya.

Sementara itu, keinginan duniawi yang merusak menunjuk kepada dorongan dosa yang membuat manusia menjauh dari kehendak Allah. Misalnya, keserakahan, kebencian, kesombongan, ketidakjujuran, dan keinginan untuk menguasai orang lain.

Saudara-saudara, kita hidup di tengah dunia yang sering mengajarkan bahwa keberhasilan ditentukan oleh uang, kedudukan, kekuasaan, dan pujian manusia. Semua itu dapat memiliki tempat dalam kehidupan, tetapi tidak boleh menggantikan Allah sebagai pusat hidup kita.

Seseorang mungkin mempunyai rumah besar, tetapi keluarganya tidak hidup dalam damai. Seseorang mungkin mempunyai jabatan tinggi, tetapi tidak dapat dipercaya. Seseorang mungkin dikenal banyak orang, tetapi hatinya jauh dari Tuhan.

Sebaliknya, seseorang mungkin hidup sederhana, tetapi ia jujur, setia, mengasihi keluarganya, suka menolong sesama, dan tetap percaya kepada Tuhan ketika menghadapi kesulitan. Kehidupan seperti itulah yang menunjukkan bahwa imannya sedang bertumbuh.

Apa penerapannya bagi kita? Dalam keluarga, jangan hanya berdoa supaya anak-anak berhasil, tetapi ajarkan mereka hidup jujur dan bertanggung jawab.

Dalam pekerjaan, jangan hanya meminta berkat Tuhan, tetapi kerjakan tugas dengan sungguh-sungguh dan jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita.

Dalam kehidupan bermasyarakat, jangan hanya mengharapkan orang lain berbuat baik kepada kita, tetapi mulailah menjadi orang yang membawa kebaikan.

Dan ketika kita jatuh dalam dosa, jangan menjauh dari Tuhan karena merasa tidak layak. Datanglah kepada-Nya dengan pertobatan yang sungguh-sungguh dan mintalah pertolongan-Nya untuk berubah.

Ingatlah, saudara-saudara, kita tidak dipanggil karena kita sudah sempurna; kita dipanggil oleh Allah yang penuh kasih supaya hidup kita terus diperbarui.

Inilah penghiburan bagi kita pada Minggu Trinitatis. Allah tidak meninggalkan kita berjalan sendirian. Dia telah menyediakan anugerah dan janji-Nya, sehingga kita dapat belajar hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

2. Panggilan Allah harus dijawab dengan pertumbuhan iman yang nyata

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan!

Setelah menjelaskan anugerah Allah, Petrus melanjutkan dengan sebuah ajakan yang tegas. Karena Allah telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk kehidupan yang saleh, orang percaya harus dengan sungguh-sungguh berusaha menambahkan berbagai sifat yang baik ke dalam imannya.

Petrus menyebutkan beberapa hal secara berurutan:

·         Iman harus disertai kebajikan.

·         Kebajikan harus disertai pengetahuan.

·         Pengetahuan harus disertai penguasaan diri.

·         Penguasaan diri harus disertai ketekunan.

·         Ketekunan harus disertai kesalehan.

·         Kesalehan harus disertai kasih akan saudara-saudara seiman.

·         Kasih kepada saudara-saudara seiman harus disertai kasih kepada semua orang.

Daftar ini menunjukkan bahwa iman yang hidup harus menghasilkan perubahan dalam diri manusia.

Mari kita membahasnya satu per satu.

Pertama, iman harus disertai kebajikan.

Kebajikan berarti kesediaan melakukan hal yang baik dan benar. Orang yang memiliki iman tidak cukup hanya berkata bahwa ia percaya kepada Tuhan. Ia juga harus menunjukkan kebaikan dalam tindakannya. Kalau kita percaya bahwa Tuhan mengasihi kita, kita pun belajar mengasihi orang lain. Kalau kita percaya bahwa Tuhan mengampuni kita, kita belajar mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah benar, kita belajar berlaku jujur sekalipun tidak ada orang yang mengawasi.

Jangan sampai ketika berada di gereja kita terlihat ramah, tetapi setelah pulang kita menjadi kasar kepada keluarga. Jangan sampai ketika berdoa kita memohon berkat, tetapi ketika bekerja kita justru melakukan kecurangan.

Iman harus terlihat dalam kebajikan.

Kedua, kebajikan harus disertai pengetahuan.

Kebaikan perlu disertai pengertian yang benar. Kita tidak boleh melakukan sesuatu hanya berdasarkan perasaan atau keinginan sendiri. Kita perlu terus belajar mengenal firman Tuhan agar dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah. Contohnya, seorang orang tua mungkin merasa bahwa ia sedang mendidik anak dengan baik ketika selalu memarahi anak yang melakukan kesalahan. Namun, orang tua juga perlu belajar bahwa anak membutuhkan arahan, ketegasan, kesabaran, dan kasih. Demikian juga dalam gereja. Semangat melayani perlu disertai pengertian terhadap firman Tuhan dan sikap yang membangun persekutuan.

Karena itu, jangan pernah merasa sudah cukup mengenal Tuhan. Teruslah membaca Alkitab, mendengarkan pengajaran yang benar, berdoa, dan belajar menerapkan firman-Nya.

Ketiga, pengetahuan harus disertai penguasaan diri.

Saudara-saudara, kita mungkin mengetahui banyak ayat Alkitab. Kita mungkin mampu menjelaskan panjang lebar tentang kesabaran dan kasih. Tetapi pertanyaannya, apakah kita dapat mengendalikan diri ketika marah?

Seseorang bisa mengetahui bahwa perkataan kasar itu salah, tetapi tetap mengucapkannya ketika tersinggung. Seseorang bisa mengetahui bahwa bergosip itu tidak baik, tetapi tetap menyebarkan cerita tentang orang lain. Itulah sebabnya pengetahuan harus disertai penguasaan diri.

Bayangkan seorang suami yang pulang dari pekerjaan dalam keadaan lelah. Ia menghadapi persoalan di tempat kerja, pikirannya penuh, dan emosinya tidak stabil. Ketika sampai di rumah, anaknya melakukan kesalahan kecil.

Ia mempunyai dua pilihan. Ia dapat langsung membentak anaknya, atau ia dapat menenangkan diri terlebih dahulu, kemudian berbicara dengan tegas tetapi penuh kasih.

Penguasaan diri bukan berarti kita tidak pernah marah. Penguasaan diri berarti kita tidak membiarkan kemarahan menguasai perkataan dan tindakan kita.

Humor kecil: Ada orang yang berkata, “Saya sebenarnya bisa menahan amarah. Masalahnya, kalau saya sudah marah, saya lupa bahwa saya sedang berusaha menahannya!”

Kita tertawa, tetapi ini mengingatkan kita bahwa menguasai diri tidak cukup hanya dengan niat. Kita perlu melatihnya setiap hari dan meminta pertolongan Tuhan.

Keempat, penguasaan diri harus disertai ketekunan.

Ketekunan berarti tetap setia melakukan yang benar, sekalipun kita menghadapi kesulitan.

Seorang petani tidak menanam hari ini lalu menuntut panen besok pagi. Ia harus menunggu, merawat tanaman, dan menghadapi perubahan cuaca. Demikian juga pertumbuhan iman memerlukan waktu.

Kita tidak dapat berharap menjadi pribadi yang sabar hanya karena mendengarkan satu khotbah tentang kesabaran. Kita tidak langsung menjadi orang yang penuh kasih hanya karena satu kali berdoa. Perubahan karakter membutuhkan ketekunan. Ada kebiasaan buruk yang harus kita tinggalkan sedikit demi sedikit. Ada hubungan yang perlu dipulihkan. Ada luka hati yang harus kita bawa kepada Tuhan dan proses pemulihannya mungkin membutuhkan waktu.

Jangan menyerah ketika kita belum melihat perubahan yang besar. Teruslah melangkah bersama Tuhan.

Kelima, ketekunan harus disertai kesalehan.

Kesalehan berarti kehidupan yang menghormati Allah dan mencerminkan hubungan yang benar dengan-Nya. Orang yang saleh bukan hanya orang yang rajin mengikuti kegiatan gereja. Ia juga berusaha menghormati Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Kesalehan terlihat ketika kita tetap jujur walaupun dapat memperoleh keuntungan dari kebohongan. Kesalehan terlihat ketika kita menolak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kesalehan terlihat ketika kita menggunakan waktu, tenaga, dan berkat yang kita terima secara bertanggung jawab. Dengan demikian, ibadah pada hari Minggu harus memengaruhi cara kita hidup pada hari Senin sampai Sabtu.

Keenam, kesalehan harus disertai kasih kepada saudara-saudara seiman.

Petrus mengingatkan bahwa kehidupan rohani harus disertai kasih kepada sesama orang percaya.

Apa artinya? Kita tidak boleh merasa diri paling rohani, tetapi tidak peduli terhadap saudara seiman yang sedang mengalami kesusahan.

Ketika ada jemaat yang sakit, kita dapat mengunjunginya atau menanyakan keadaannya. Ketika ada keluarga yang berduka, kita dapat hadir untuk menguatkan. Ketika terjadi kesalahpahaman di gereja, kita belajar menyelesaikannya dengan rendah hati, bukan memperbesar masalah.

Gereja bukan hanya tempat kita menerima berkat, melainkan juga tempat kita belajar menjadi berkat.

Ketujuh, kasih kepada saudara seiman harus disertai kasih kepada semua orang.

Kasih Kristen tidak boleh berhenti hanya pada orang yang dekat dengan kita atau orang yang memiliki pandangan yang sama dengan kita.

Kita dipanggil untuk memperlakukan sesama dengan kasih dan penghormatan, termasuk orang yang berbeda pendapat dengan kita.

Ini bukan berarti kita harus menyetujui semua tindakan orang lain. Kita tetap perlu membedakan yang benar dan yang salah. Namun, kita dapat menegur tanpa menghina, menolak tindakan yang salah tanpa membenci orangnya, dan mempertahankan kebenaran tanpa kehilangan kasih.

Saudara-saudara, seluruh rangkaian ini menunjukkan bahwa iman bukan sesuatu yang diam. Iman harus bertumbuh dan menghasilkan buah.

Dalam penghayatan Minggu Trinitatis, kita mengingat bahwa hidup kita berasal dari anugerah Allah. Karena itu, kita tidak membanggakan diri atas pertumbuhan iman kita. Kita bersyukur atas pertolongan-Nya dan terus berusaha hidup sesuai dengan panggilan-Nya.

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Dari semua sifat yang disebutkan Petrus, bagian mana yang paling perlu saya perbaiki saat ini? Apakah penguasaan diri? Ketekunan? Kesalehan? Atau kasih kepada orang yang sulit saya terima?

Jangan hanya mencari kekurangan orang lain. Biarlah firman Tuhan terlebih dahulu menyentuh hati kita sendiri.

3. Orang yang dipanggil Allah harus menghasilkan buah dalam kehidupannya

Saudara-saudara yang terkasih!

Pada ayat 8, Petrus menjelaskan bahwa apabila sifat-sifat tersebut ada pada orang percaya dan terus bertambah, maka kehidupan mereka tidak akan menjadi mandul atau tidak berbuah dalam pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus.

Sebaliknya, ayat 9 memperingatkan bahwa orang yang tidak memiliki sifat-sifat tersebut menjadi buta atau picik dan lupa bahwa ia telah dibersihkan dari dosa-dosanya yang dahulu.

Ini adalah peringatan yang sangat penting.

Petrus tidak mengatakan bahwa kita harus menjadi sempurna tanpa kesalahan. Ia sedang menegaskan bahwa orang yang sungguh-sungguh mengenal Kristus tidak boleh berpuas diri dengan kehidupan iman yang tidak menghasilkan perubahan.

Buah iman terlihat dalam kehidupan nyata.

Jika dahulu kita mudah membalas perkataan kasar, sekarang kita belajar menjawab dengan lebih tenang.

Jika dahulu kita selalu ingin menang dalam perdebatan keluarga, sekarang kita belajar mendengarkan.

Jika dahulu kita tidak peduli terhadap kesulitan tetangga, sekarang kita mulai bertanya apakah ada yang dapat kita bantu.

Jika dahulu kita menggunakan pekerjaan untuk kepentingan diri sendiri, sekarang kita belajar menjalankan tanggung jawab dengan jujur.

Perubahan seperti itu mungkin tidak selalu terlihat besar di mata manusia. Namun, perubahan kecil yang dilakukan dengan kesetiaan dapat menjadi kesaksian yang kuat tentang karya Allah dalam hidup kita.

Mari kita menggunakan sebuah contoh sederhana.

Ada dua orang yang sama-sama rajin datang ke gereja. Keduanya mengikuti ibadah, menyanyikan lagu rohani, dan mendengarkan khotbah.

Namun, setelah pulang, orang pertama berusaha menerapkan firman Tuhan. Ia meminta maaf ketika melakukan kesalahan, memperbaiki sikapnya kepada pasangan, dan mulai memperhatikan orang yang membutuhkan pertolongan.

Orang kedua juga mendengar firman, tetapi ia selalu merasa bahwa khotbah itu ditujukan kepada orang lain. Setiap kali mendengar teguran tentang kesabaran, ia teringat kepada pasangannya. Ketika mendengar tentang kejujuran, ia teringat kepada tetangganya. Namun, ia tidak pernah memeriksa kehidupannya sendiri.

Saudara-saudara, mendengar firman Tuhan memang penting. Tetapi firman itu perlu diterima dengan hati yang terbuka dan diterapkan dalam kehidupan.

Peringatan ayat 9 mengajak kita untuk tidak melupakan anugerah pengampunan yang telah kita terima. Orang yang sadar bahwa dirinya telah diampuni seharusnya tidak hidup dalam kesombongan rohani, melainkan dalam kerendahan hati dan rasa syukur.

Kita tidak boleh berkata, “Saya sudah lama menjadi Kristen, jadi saya tidak perlu lagi berubah.”

Justru karena kita telah lama mengenal Tuhan, seharusnya kasih kita semakin dalam, kesabaran kita semakin bertumbuh, dan kesediaan kita melayani semakin nyata.

Jangan sampai kita semakin tua dalam usia, semakin lama menjadi anggota gereja, tetapi tetap memelihara kebencian yang sama, kesombongan yang sama, dan kebiasaan menyakiti orang lain yang sama.

Saudara-saudara, mari kita renungkan: Apakah orang-orang yang hidup bersama kita dapat merasakan bahwa kita semakin mengenal Kristus?

Apakah pasangan kita merasakan kasih kita? Apakah anak-anak melihat teladan kejujuran kita? Apakah rekan kerja dapat mempercayai perkataan kita? Apakah tetangga merasakan kehadiran kita sebagai berkat?

Jangan hanya bertanya berapa lama kita sudah menjadi orang Kristen. Bertanyalah juga apakah kehidupan kita semakin menghasilkan buah iman.

Dalam Minggu Trinitatis, kita diingatkan bahwa iman kepada Allah Tritunggal bukan sekadar pengakuan yang diucapkan dengan mulut. Iman itu harus membentuk karakter kita dan menghasilkan kehidupan yang memuliakan Allah.

4. Berusahalah dengan sungguh-sungguh untuk meneguhkan panggilan dan pilihan Allah

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan!

Pada ayat 10, Petrus memberikan nasihat supaya orang percaya berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneguhkan panggilan dan pilihan mereka. Ia juga mengatakan bahwa apabila mereka melakukannya, mereka tidak akan tersandung.

Ayat ini sangat dekat dengan tema khotbah kita: “Dipanggil dan Dipilih Allah.”

Namun, kita harus memahami maksudnya dengan benar.

Petrus bukan mengajarkan bahwa manusia membeli keselamatan dengan perbuatan baik atau bahwa Allah baru akan mengasihi kita apabila kita berhasil menjadi sempurna. Dalam bagian sebelumnya, ia telah menjelaskan bahwa Allah lebih dahulu menganugerahkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kehidupan yang saleh.

Karena itu, usaha yang dimaksud bukanlah usaha untuk memaksa Allah menerima kita. Usaha itu adalah kesungguhan untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan panggilan dan pilihan-Nya.

Dengan kata lain, kehidupan kita seharusnya semakin memperlihatkan bahwa kita benar-benar hidup sebagai orang yang telah dipanggil oleh Allah.

Panggilan Allah harus dijawab dengan kesetiaan.

Kalau kita dipanggil menjadi orang tua, kita belajar mendidik anak dengan kasih dan tanggung jawab. Kalau kita dipanggil menjalankan suatu pekerjaan, kita belajar melakukannya dengan jujur dan tekun. Kalau kita diberi kesempatan melayani di gereja, kita melayani bukan untuk mencari pujian, melainkan karena bersyukur kepada Tuhan.

Kalau kita dipercaya memegang tanggung jawab dalam masyarakat, kita menjalankannya dengan adil, tidak menyalahgunakan kepercayaan, dan tidak mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Tidak semua orang mempunyai pekerjaan yang sama. Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama. Namun, setiap orang dapat berusaha setia kepada Tuhan di tempat ia berada.

Ada orang yang melayani Tuhan melalui khotbah di mimbar. Ada yang melayani melalui doa yang tekun. Ada yang melayani dengan merawat anggota keluarga yang sakit. Ada yang menjadi berkat melalui kejujuran dalam pekerjaan dan kesediaan menolong tetangga.

Jangan menganggap panggilan Allah hanya berlaku bagi pendeta, penatua, atau orang-orang yang memegang jabatan gerejawi. Setiap orang percaya dipanggil untuk hidup dalam iman dan kesetiaan kepada Tuhan.

Lalu, bagaimana kita meneguhkan panggilan itu?

Pertama, periksalah kehidupan kita berdasarkan firman Tuhan, bukan hanya berdasarkan pendapat kita sendiri.

Kedua, akuilah kesalahan dan bertobatlah ketika Tuhan menunjukkan bagian hidup yang perlu diperbaiki.

Ketiga, lakukanlah kebaikan secara konsisten, sekalipun tidak ada orang yang memuji.

Keempat, tetaplah berpegang pada Tuhan ketika menghadapi pencobaan, kesulitan, dan kekecewaan.

Saudara-saudara, janganlah kita menjadi orang yang hanya bersemangat pada awal perjalanan iman, tetapi berhenti ketika menghadapi masalah.

Ketika doa belum dijawab sesuai keinginan, tetaplah percaya. Ketika usaha mengalami kesulitan, tetaplah bekerja dengan jujur. Ketika keluarga menghadapi persoalan, jangan mudah menyerah untuk mencari jalan damai. Ketika kita melihat kelemahan diri sendiri, jangan putus asa, tetapi datanglah kepada Tuhan untuk memperoleh pertolongan dan menjalani perubahan.

Panggilan Allah bukan alasan untuk menyombongkan diri. Panggilan Allah adalah alasan untuk hidup rendah hati, bersyukur, dan setia.

5. Allah memanggil kita menuju kehidupan kekal bersama Kristus

Saudara-saudara yang terkasih!

Ayat 11 menjadi penutup rangkaian nasihat Petrus. Ia menyatakan bahwa dengan demikian, jalan masuk ke dalam Kerajaan kekal Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, akan dikaruniakan kepada orang percaya dengan berlimpah-limpah.

Inilah pengharapan yang besar bagi setiap orang yang hidup dalam Kristus.

Kehidupan Kristen bukan hanya tentang bagaimana kita menjalani hari ini. Kita juga memandang kepada pengharapan kekal yang telah dijanjikan Allah.

Dunia ini tidak selalu memberikan kemudahan kepada kita. Ada orang yang bekerja keras tetapi hasilnya belum mencukupi kebutuhan keluarga. Ada orang yang sudah berusaha menjaga keharmonisan rumah tangga, tetapi masih menghadapi konflik. Ada orang yang rajin berdoa, tetapi harus melewati masa sakit, kehilangan, atau kesedihan.

Firman Tuhan tidak menjanjikan bahwa setiap orang percaya akan terbebas dari semua kesulitan dunia. Namun, firman Tuhan mengarahkan kita untuk tetap setia dan memandang kepada pengharapan yang ada di dalam Kristus.

Kita tidak menjalani kehidupan iman dengan sia-sia. Kita tidak mengasihi tanpa arti. Kita tidak perlu meninggalkan kejujuran hanya karena orang lain memperoleh keuntungan melalui kecurangan. Kita tidak perlu membalas kebencian hanya karena orang lain menyakiti kita.

Mengapa? Karena kehidupan kita berada dalam tangan Tuhan dan tujuan akhir kita adalah hidup bersama-Nya.

Bayangkan seseorang yang telah bekerja bertahun-tahun untuk membesarkan anak-anaknya. Ia melewati banyak kesulitan, menghemat pengeluaran, dan tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Ia mungkin tidak selalu menerima penghargaan, tetapi ia terus menjalankan tanggung jawabnya karena mengetahui bahwa kasih dan pengorbanannya mempunyai tujuan.

Demikian juga dalam kehidupan iman. Kita tetap setia bukan karena setiap perbuatan baik kita langsung mendapat balasan dari manusia, melainkan karena kita mengasihi Tuhan dan percaya kepada janji-Nya.

Pengharapan akan Kerajaan kekal tidak membuat kita mengabaikan kehidupan di dunia. Sebaliknya, pengharapan itu mendorong kita menjalani kehidupan sekarang dengan lebih bertanggung jawab.

Karena kita mengharapkan kehidupan bersama Tuhan, marilah kita menjaga perkataan, memelihara kasih dalam keluarga, berlaku jujur dalam pekerjaan, mengampuni dengan tulus, dan menolong sesama sesuai kemampuan kita.

Kita tidak tahu berapa lama kesempatan yang diberikan kepada kita di dunia ini. Karena itu, jangan menunda untuk melakukan kebaikan. Jangan menunda meminta maaf. Jangan menunda memperbaiki hubungan yang rusak. Jangan menunggu sampai kita kehilangan seseorang baru menyadari betapa berharganya kasih dan kebersamaan.

Hari ini adalah kesempatan untuk kembali kepada Tuhan dan memperbarui kesetiaan kita.

Saudara-saudara, pada Minggu Trinitatis ini kita mengingat bahwa Allah adalah sumber anugerah dan pengharapan kita. Melalui Kristus, kita menerima panggilan untuk hidup dalam kesalehan, dan dengan berpegang pada janji-Nya, kita diarahkan kepada pengharapan Kerajaan kekal.

Karena itu, marilah kita terus bertumbuh dalam iman dan kasih, sambil menantikan penggenapan janji Allah dengan penuh pengharapan.

PENERAPAN PRAKTIS DALAM KEHIDUPAN JEMAAT

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan!

Setelah mendengar firman Tuhan dari 2 Petrus 1:3–11, kita perlu membawa pesan ini pulang ke rumah. Firman Tuhan tidak boleh berhenti di dalam gedung gereja. Firman Tuhan harus masuk ke dalam hati dan memengaruhi tindakan kita sehari-hari.

Marilah kita menerapkan panggilan Allah dalam beberapa bidang kehidupan.

1. Dalam hubungan pribadi dengan Tuhan

Luangkan waktu setiap hari untuk berdoa dan membaca firman Tuhan. Tidak harus selalu panjang, tetapi lakukan dengan sungguh-sungguh dan teratur.

Ketika membaca Alkitab, jangan hanya bertanya, “Apa arti ayat ini?” Tanyakan juga, “Apa yang perlu saya ubah setelah membaca firman ini?”

Jika firman Tuhan menegur kesombongan kita, belajarlah rendah hati. Jika firman Tuhan mengingatkan kita untuk mengampuni, mintalah kekuatan untuk mulai mengampuni. Jika firman Tuhan mengajarkan kesetiaan, periksalah apakah kita telah menjalankan tanggung jawab dengan benar.

2. Dalam kehidupan suami dan istri

Jangan hanya menuntut pasangan berubah. Mulailah dengan memeriksa diri sendiri.

Jika selama ini kita mudah berkata kasar, belajarlah berbicara dengan lebih lembut. Jika kita melakukan kesalahan, beranilah meminta maaf. Jika pasangan sedang menghadapi kesulitan, dengarkanlah keluhannya tanpa langsung menyalahkan.

Kasih bukan hanya perasaan, melainkan juga tindakan nyata yang dilakukan setiap hari.

3. Dalam mendidik anak dan menghormati orang tua

Bagi orang tua, berikan teladan kejujuran, kesabaran, dan tanggung jawab. Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat kita, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dalam kehidupan kita.

Jangan mengajarkan kejujuran kepada anak jika kita sendiri membiasakan kebohongan. Jangan meminta anak menghormati orang lain jika mereka melihat kita selalu merendahkan orang lain.

Bagi anak-anak, hormatilah orang tua melalui perkataan dan tindakan. Dengarkan nasihat yang baik, bantu mereka sesuai kemampuan, dan tunjukkan perhatian, terutama ketika mereka sudah lanjut usia.

4. Dalam pekerjaan dan tanggung jawab

Kerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Jangan menggunakan kepercayaan orang lain untuk keuntungan yang tidak benar. Jangan mengambil hak orang lain. Jangan membiarkan kebiasaan malas menguasai diri.

Apabila kita seorang petani, bertanilah dengan tekun dan jujur. Apabila kita seorang guru, didiklah murid dengan tanggung jawab. Apabila kita seorang pedagang, berlaku jujurlah kepada pembeli. Apabila kita seorang pemimpin, gunakanlah wewenang untuk melayani dan membangun, bukan untuk menindas.

Apa pun pekerjaan kita, panggilan Allah dapat dinyatakan melalui kesetiaan kita dalam pekerjaan tersebut.

5. Dalam kehidupan bergereja

Jangan hanya menjadi jemaat yang hadir ketika ada ibadah atau acara tertentu. Belajarlah menjadi anggota persekutuan yang peduli terhadap orang lain.

Jika ada perbedaan pendapat, selesaikan dengan kasih. Jika ada orang yang melakukan kesalahan, tegurlah dengan bijaksana. Jika ada saudara seiman yang membutuhkan pertolongan, berikan dukungan sesuai kemampuan.

Jangan menjadikan pelayanan sebagai tempat mencari pujian atau membandingkan diri dengan orang lain. Ingatlah, kita semua menerima anugerah dari Tuhan. Karena itu, marilah kita melayani dengan rendah hati.

6. Dalam kehidupan bermasyarakat

Jadilah tetangga yang dapat dipercaya. Jangan menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya. Jangan mudah memperbesar perselisihan. Hormatilah orang yang berbeda pendapat, dan bantulah orang yang sedang mengalami kesulitan.

Kita tidak harus melakukan perkara besar untuk menjadi berkat. Terkadang, sebuah perkataan yang menghibur, kesediaan mendengarkan, bantuan kecil, atau kunjungan kepada orang yang kesepian dapat menjadi wujud kasih yang sangat berarti.

7. Ketika menghadapi kesulitan hidup

Jangan mengukur kasih Allah hanya berdasarkan keadaan yang sedang kita alami.

Ketika hidup terasa berat, tetaplah datang kepada Tuhan. Carilah dukungan dari keluarga dan saudara seiman yang dapat dipercaya. Lakukan tanggung jawab yang masih dapat kita lakukan, dan jangan malu meminta bantuan ketika memang membutuhkannya.

Ketekunan bukan berarti kita tidak pernah menangis atau tidak pernah merasa lemah. Ketekunan berarti kita terus mencari pertolongan Tuhan dan berusaha berjalan dalam kebenaran sekalipun langkah kita terasa berat.

Saudara-saudara, kita mungkin tidak dapat mengubah seluruh keadaan dalam satu hari. Namun, dengan pertolongan Tuhan, kita dapat mulai mengubah satu sikap, memperbaiki satu hubungan, meninggalkan satu kebiasaan buruk, dan melakukan satu tindakan kasih.

Dari situlah pertumbuhan iman menjadi nyata.

AJAKAN UNTUK MERENUNGKAN DIRI

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus!

Sebelum kita mengakhiri khotbah ini, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk memeriksa hati kita sendiri.

Jangan dahulu memikirkan kesalahan pasangan kita. Jangan dahulu mengingat kelemahan anak kita. Jangan dahulu memikirkan orang yang pernah menyakiti kita.

Untuk sesaat, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah saya sungguh-sungguh bersyukur karena telah dipanggil Allah?

Apakah iman saya telah menghasilkan kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, dan kasih?

Apakah orang-orang di rumah merasakan bahwa saya semakin mengenal Kristus?

Apakah saya tetap setia kepada Tuhan ketika menghadapi masalah?

Apakah ada seseorang yang perlu saya mintai maaf? Apakah ada orang yang perlu saya ampuni? Apakah ada tanggung jawab yang selama ini saya abaikan?

Mungkin hari ini kita menyadari bahwa masih banyak bagian hidup yang perlu diperbaiki. Janganlah kita menjadi putus asa.

Firman Tuhan bukan hanya menegur, tetapi juga mengarahkan kita kepada anugerah Allah. Dia telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk kehidupan yang saleh melalui pengenalan akan Kristus.

Karena itu, datanglah kepada Tuhan dengan hati yang terbuka. Akuilah kelemahan kita. Mintalah pertolongan-Nya. Lalu, mulailah melangkah dalam ketaatan.

Jangan menunggu sampai kita menjadi sempurna untuk melakukan kebaikan. Mulailah dengan apa yang dapat kita lakukan hari ini.

Jika selama ini kita mudah marah, hari ini belajarlah menahan perkataan.

Jika selama ini kita mengabaikan keluarga, hari ini mulailah menyediakan waktu untuk mereka.

Jika selama ini kita menyimpan kebencian, hari ini mulailah berdoa agar hati kita dipulihkan.

Jika selama ini kita lalai dalam tanggung jawab, hari ini mulailah memperbaikinya.

Jangan hanya menjadi orang yang mendengar panggilan Allah. Jadilah orang yang menjawab panggilan-Nya melalui kehidupan yang semakin berkenan kepada-Nya.

KESIMPULAN DAN PENUTUP KHOTBAH

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan!

Firman Tuhan dalam 2 Petrus 1:3–11 mengingatkan kita bahwa kita dipanggil dan dipilih Allah bukan karena kita telah sempurna, melainkan karena anugerah-Nya. Melalui pengenalan akan Yesus Kristus, Allah telah memberikan segala sesuatu yang diperlukan untuk kehidupan yang saleh. Karena itu, kita dipanggil untuk bertumbuh dalam iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, dan kasih, sehingga kehidupan kita menghasilkan buah yang nyata bagi keluarga, gereja, dan masyarakat. Pada Minggu Trinitatis, kita kembali menghayati iman kepada Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, serta menyadari bahwa seluruh kehidupan kita harus diarahkan untuk memuliakan Allah. Oleh sebab itu, marilah kita tidak berhenti hanya pada pengakuan bahwa kita adalah orang Kristen, tetapi menunjukkan iman itu melalui kesetiaan, kejujuran, kesabaran, pengampunan, dan kasih setiap hari. Mulai hari ini, marilah kita berkomitmen melakukan satu perubahan nyata: meninggalkan satu sikap yang tidak berkenan kepada Tuhan dan menggantinya dengan satu tindakan kasih yang dapat dirasakan oleh orang lain. Jangan takut ketika proses perubahan terasa sulit, sebab kita tidak berjalan sendirian. Allah telah memberikan anugerah-Nya, dan di dalam Kristus kita mempunyai pengharapan akan Kerajaan-Nya yang kekal. Kiranya ketika orang lain melihat kehidupan kita, mereka tidak hanya mendengar bahwa kita percaya kepada Tuhan, tetapi juga merasakan kasih Tuhan melalui perkataan dan perbuatan kita. Kita telah dipanggil dan dipilih Allah; marilah kita hidup setia dalam panggilan itu sampai akhir. Kiranya hidup kita menjadi buah yang memuliakan Allah, menjadi berkat bagi sesama, dan menjadi kesaksian bahwa kita sungguh-sungguh hidup di dalam Kristus. Amin.


Senin, 12 Oktober 2026

Makna Doa Bersama (Partangiangan) Borsak Mangatasi Berdasarkan Surat Pengurus BM Siborongborong No. 1/10/ BM/77

 


Makna Doa Bersama (Partangiangan) Borsak Mangatasi Nababan, Boru, Bere  dan Ibebere

Berdasarkan Surat Pengurus BM Siborongborong No. 1/10/ BM/77

 

I. Latar Belakang / Latar Belakang Adanya Doa Bersama (Partangiangan)

Latar belakang mengapa kita menyelenggarakan Doa Bersama (Partangiangan) ini adalah karena para Tetua/Orang Tua kita di Kampung Halaman (Bona ni Pasogit) merasakan adanya ketertinggalan kita dalam hal kemajuan, jabatan, dan pendidikan jika dibandingkan dengan marga-marga tetangga sekitar. Sebelum tahun 1955, hampir tidak ada yang memiliki gelar kesarjanaan dari marga kita. Namun, setelah Doa Bersama tersebut dilaksanakan, kita telah menerima banyak berkat (karunia) dari Tuhan, di mana saat ini sudah ada (banyak) yang bergelar sarjana.

Meskipun demikian, kita harus tetap memohon kepada Tuhan agar berkat jasmani maupun berkat rohani terus ditambahkan kepada kita di masa depan. Kita juga tidak boleh lupa mengucapkan syukur kepada-Nya, karena semua ini terjadi bukan karena kekuatan atau kepintaran kita, melainkan semata-mata karena kasih karunia-Nya. Oleh karena itu, jangan pernah kita melupakan hal tersebut.

II. Hal yang Harus Diingat dan Dilaksanakan

Pada tanggal 13 Oktober 1955, Doa Bersama yang pertama (1) dilaksanakan di kampung kita, Lbn Tonga-tonga Siborongborong, yang dihadiri oleh sekitar 5.000 orang beserta para undangan dari seluruh marga Batak.

1.    Peringatan Tahunan: Kita wajib menyelenggarakan Doa Bersama ini setiap tahun seperti yang disebutkan di atas.

2.   Pesan untuk Keturunan: Hal ini harus kita pesankan kepada anak-cucu (Pinompar) kita agar selalu diingat dan dilaksanakan.

3.      Ketentuan Tanggal: Sebisa mungkin tanggal peringatan Doa Bersama tersebut tidak diganti. Kecuali jika ada keadaan yang sangat terpaksa, tanggalnya boleh dimajukan atau diundurkan, tetapi tidak boleh terlalu jauh dari tanggal aslinya.

4.      Hati yang Tulus: Doa Bersama ini tidak boleh terhalang (sundat) hanya karena perkara makanan atau minuman. Bukan makanan, minuman, pakaian, emas, maupun perak yang diminta oleh Tuhan dari kita, melainkan HATI YANG TULUS DAN SUCI.

5.    Dapat Dilaksanakan dalam Berbagai Skala: Doa Bersama tidak boleh batal hanya karena tidak semua anggota bisa berkumpul. Harus tetap kita ingat dan laksanakan meskipun bersifat perorangan, per rumah tangga, atau dalam lingkupan kumpulan kecil.

6.    Kewajiban Pengingat: Hal yang sangat penting adalah seluruh Marga Nababan beserta Boru dan Bere-nya harus mengingat tanggal 13-10-1955, seraya mengucap syukur kepada Tuhan serta memohon agar Tuhan menambah berkat-Nya untuk waktu yang akan datang, dan berdoa agar tetap saling mengasihi dalam kasih sesuai dengan kehendak Tuhan.

7.    Pihak Hula-hula: Doa Bersama ini tidak boleh terhalang hanya karena kehadiran Hula-hula dan para undangan (tidak diwajibkan untuk mengundang hula-hula atau pihak lain ke doa bersama ini).

8.  Kehadiran Undangan/Saksi: Apabila menurut pertimbangan Pengurus/Punguan dirasa perlu menghadirkan hula-hula atau pihak lain sebagai saksi, hal tersebut baik dan diserahkan kepada keputusan bersama punguan, selama tidak menyimpang dari tujuan utama doa bersama ini. Sebab, Nababan beserta boru dan bere-nyalah yang menjadi tujuan utama (hasahatan) kegiatan ini, sedangkan pihak lain hanya sebagai penyaksi (panolopi).

9.  Muliakan Tuhan: Dalam suasana doa bersama tersebut, jangan sampai manusia yang diagungkan, melainkan Tuhan-lah yang harus diutamakan dan dimuliakan, karena dari Dialah asal mula segalanya, dan kepada Tuhan-lah kita mengucap syukur serta memohon.

10.Persembahan Kasih: Jika kita melaksanakan Doa Bersama, sebaiknya diadakan pengumpulan persembahan untuk aksi kasih (ulaon asi ni roha). Karena kita telah lebih dahulu menerima kasih karunia dari Tuhan, maka sudah sepatutnya kita memahami dan mengamalkan kasih itu kepada sesama yang membutuhkan ("Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan"). Mengenai pembagiannya, disepakati oleh pengurus/kumpulan sesuai dengan keyakinan dan agama masing-masing.

11. Hiburan/Gondang: Apabila ingin mengadakan lelang, hiburan, atau Gondang pada Doa Bersama tersebut, diperbolehkan. Namun, harus terlebih dahulu dilaksanakan Ibadah/Doa Khusus. Setelah Ibadah Khusus selesai, barulah acara hiburan/pelengkap dijalankan agar acara inti tidak terabaikan akibat acara tambahan.

12.  Persiapan Diri: Jika kita hendak pergi ke acara Doa Bersama tersebut, sebaiknya kita terlebih dahulu menyiapkan diri dan hati kita untuk menghadap Tuhan. Memohon pengampunan atas dosa dan kekurangan kita, serta berjanji untuk memperbaiki tingkah laku kita di hari-hari mendatang, karena itulah yang dikehendaki Tuhan dari kita. Jangan lagi melekat sifat-sifat yang buruk, kesombongan, iri hati, dengki, dan sejenisnya.

13.  Menjaga Kekudusan: Pada saat Doa Bersama berlangsung, sebisa mungkin kita menjaga diri agar tetap dalam kekudusan dan ketenangan, sebab kita sedang menghadap dan berbicara dengan Tuhan kita. Tuhan menyukai persekutuan yang tertata dan teratur.

14.  Pembagian Jambar (Hak Adat): Apabila ada hidangan makanan adat (sigagat duhut / ternak) pada Doa Bersama tersebut, maka pembagian jambar harus dilakukan di antara internal hasuhuton (Nababan / Boru / Bere).

15.  Identitas Marga: "Sekali Nababan, tetap Nababan." Jangan pernah menyamarkan marga; jika Anda membaca nama marga tersebut dari depan maupun belakang, ejaannya tetap sama: N A B A B A N.

Tiga Gelar Leluhur (Ompu Kita):

·         BORSAK MANGATASI: NABISUK MANGATASI (Yang Bijaksana Mengungguli)

·         N A B A B A N: NAMALO MANGKATAI (Yang Pandai Berbicara/Berdiplomasi)

· SIPITUARUARU: NAPISTAR MAMBUAT JAMBARNA (Yang Pintar/Cerdik Mengambil Hak/Bagiannya)

III. Pengurus Punguan Doa Bersama / BM / Boru / Bere

Berikut adalah nama-nama Pengurus pada awal dimulainya Doa Bersama tersebut:

·         Ketua: THEOPULUS NABABAN

·         Wakil Ketua: PETRUS NABABAN (Telah Meninggal Dunia)

·         Sekretaris: K.K. SABAM NABABAN

·         Bendahara: Wtr. PETRUS NABABAN (Toko Obat Sampuran) (Telah Meninggal Dunia)

·         Komisaris: R. LAZARUS NABABAN (Telah Meninggal Dunia)

(Hanya dua orang yang masih hidup saat catatan ini dibuat, yaitu: Ketua I dan Sekretaris).

Catatan:

Dikutip dari Sejarah Doa Bersama (Partangiangan) Borsak Mangatasi Nababan / Boruna / Berena, tertanggal 13 Oktober 1955.

Kamis, 17 September 2026

Yayasan Toga Sihombing : Awal Perjalanan Menuju SMA Negeri 1 Siborongborong


Pada 17 September 1956, semangat persatuan dan kepedulian terhadap masa depan generasi muda telah mempertemukan para tokoh Toga Sihombing untuk mendirikan Yayasan Perguruan SMA/SMEA Toga Sihombing.

Perjuangan P. Lumbantoruan sebagai Ketua, bersama J. Nababan, L. Silaban, dan G. Hutasoit sebagai anggota, menjadi bagian penting dari sejarah perjalanan pendidikan di Siborongborong. Dari cita-cita dan pengabdian mereka, tumbuh sebuah lembaga pendidikan yang kemudian menjadi SMA Negeri 1 Siborongborong.

Terima kasih dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada para pendiri. Jasa mereka bukan hanya melahirkan sebuah sekolah, tetapi telah membuka jalan bagi lahirnya ribuan generasi yang memperoleh kesempatan untuk belajar, bertumbuh, berkarya, dan mengabdikan dirinya bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Seiring perjalanan waktu, dari almamater ini lahir putra-putri yang kemudian mengabdikan diri di berbagai bidang. Di antaranya Dr. R.E. Nainggolan, M.M., yang pernah mengemban amanah sebagai Bupati Tapanuli Utara dan Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara; Dr. Drs. Nikson Nababan, M.Si., yang pernah memimpin Kabupaten Tapanuli Utara selama dua periode; Sukur/Syukur Nababan, yang mengabdi sebagai Anggota DPR RI; serta Kamaruddin Hendra Simanjuntak, S.H., M.H., yang berkiprah sebagai advokat. Mereka menjadi bagian dari perjalanan panjang alumni yang berkarya di berbagai bidang kehidupan.

Namun, kebanggaan sebuah sekolah bukan hanya karena beberapa nama besar. Setiap alumni yang bekerja dengan jujur, berkarya dengan sungguh-sungguh, melayani masyarakat, mendidik generasi, membangun daerah, dan memberikan manfaat bagi sesama adalah bagian dari keberhasilan perjuangan para pendiri.

Karena itu, warisan terbesar para pendiri bukan sekadar sebuah bangunan sekolah, melainkan semangat persatuan, pendidikan, dan pengabdian yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Kiranya keluarga besar SMA Negeri 1 Siborongborong terus menjaga warisan tersebut. Semoga para alumni dan generasi yang akan datang semakin mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Sumber : 

https://www.facebook.com/share/v/1LhGVyc9LU/

https://www.facebook.com/share/v/1JqPVmEY87/