Rabu, 19 November 2025
Sabtu, 15 November 2025
“TUHAN MENGASIHI SEGALA BANGSA” : Maleakhi 1:1–6
Beberapa waktu lalu, di sebuah sekolah, seorang guru mendapat amanah untuk menjadi wali kelas. Di kelas itu, ada bermacam-macam latar belakang siswa—ada yang pendiam, ada yang nakal, ada yang rajin, ada yang sering membuat masalah. Semua orang tahu, menjadi wali kelas itu melelahkan. Tapi yang mengejutkan, guru ini tidak pernah menunjukkan rasa pilih kasih. Ia memperlakukan semua anak dengan penuh perhatian: yang nakal dibimbing, yang pendiam diajak berbicara, yang rajin diberi kesempatan berkembang.
Ketika ada orang bertanya, “Kenapa Ibu begitu sayang kepada semuanya? Bukankah lebih mudah menyayangi yang baik-baik saja?”
Dengan senyum Ia menjawab, “Karena mereka semua anak dalam tanggung jawab saya. Tidak peduli mereka seperti apa, tugas saya adalah mengasihi dan membimbing.”
Ilustrasi sederhana ini memberi gambaran tentang hati Allah. Kasih-Nya tidak terbatas pada satu kelompok saja, tetapi untuk semua manusia, semua suku, semua bangsa. Inilah pesan kuat yang muncul dalam kitab Maleakhi.
1. Tuhan Menegaskan Kasih-Nya (Maleakhi 1:2)
Dalam Maleakhi 1, Tuhan memulai firman-Nya dengan kalimat:
“Aku mengasihi kamu.”
Namun bangsa Israel merespons dengan ketidakpercayaan:
“Dengan cara bagaimana Engkau mengasihi kami?”
Kalau kita jujur, sering kali kita pun bertanya hal yang sama kepada Tuhan. Ketika kita menghadapi masalah, pergumulan ekonomi, keluarga, pekerjaan, atau pelayanan, kita berkata, “Tuhan, benarkah Engkau mengasihi aku?”
Tetapi Tuhan menunjukkan bahwa kasih-Nya telah nyata sejak awal sejarah. Ia memilih Israel bukan karena Israel hebat, tetapi karena kasih karunia.
Kasih Tuhan tidak pernah berhenti pada satu bangsa—melainkan menjadi jalan bagi semua bangsa menerima berkat, sebab melalui Israel pula lahir Juruselamat bagi seluruh dunia.
2. Kasih Tuhan Tidak Pernah Terbatas oleh Suku, Bangsa, atau Latar Belakang
Maleakhi menyinggung tentang Israel dan Edom. Secara manusia, keduanya sama-sama keturunan Ishak. Namun Edom memilih jalan pemberontakan dan kekerasan.
Sementara Israel juga sering gagal, tetapi Tuhan tetap bekerja dari situ untuk membuka jalan keselamatan bagi segala bangsa.
Artinya, Tuhan tidak memilih satu suku tertentu sebagai favorit. Ia memilih rencana, bukan memilih-milih manusia.
Kasih Allah tidak pernah bersifat eksklusif.
Dalam Perjanjian Baru, kita melihat:
-
Para Majus dari Timur datang menyembah Yesus
-
Yesus memuji iman perwira Roma
-
Yesus menyembuhkan anak perempuan perempuan Siro-Fenesia
-
Amanat Agung ditujukan untuk semua bangsa
Semua ini membuktikan bahwa kasih Allah tidak pernah terkurung oleh satu batas etnis.
3. Respons yang Allah Inginkan: Hormat dan Taat (Maleakhi 1:6)
Ayat 6 menegaskan:
“Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya.”
Kalau Allah mengasihi segala bangsa, maka apa yang Dia inginkan?
Respons berupa hormat dan ketaatan.
Bangsa Israel pada zaman Maleakhi gagal menghormati Tuhan:
-
Mereka mempersembahkan korban yang cacat
-
Mereka beribadah tanpa hati
-
Mereka melayani secara asal-asalan
Ini peringatan bagi kita.
Tuhan yang mengasihi segala bangsa, mengasihi kita pun sama besarnya. Tapi Ia ingin kita menunjukkan hormat melalui:
-
ibadah yang sungguh-sungguh
-
hidup yang jujur
-
pelayanan yang setia
-
karakter yang mencerminkan kasih-Nya
Hormat kepada Tuhan bukan sekadar kata-kata, tetapi cara hidup.
Kesimpulan
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, melalui Maleakhi 1:1–6 kita melihat tiga hal besar:
-
Kasih Tuhan nyata dan tidak berubah—Ia mengasihi manusia bukan karena layak, tetapi karena Ia penuh kasih.
-
Kasih Tuhan berlaku bagi segala bangsa—tidak ada batasan etnis, suku, status, atau latar belakang. Semua manusia berada dalam jangkauan kasih-Nya.
-
Karena Allah mengasihi semua bangsa, Ia menuntut hormat dari kita—bukan hormat yang dipaksakan, tetapi respons syukur dari hati yang menyadari kasih-Nya.
Kiranya kita sebagai umat Tuhan hidup dalam hormat, ketaatan, dan kasih kepada sesama tanpa memandang perbedaan apa pun—sebab Tuhan terlebih dahulu mengasihi semuanya.
Amin
-
Beberapa waktu lalu, di sebuah sekolah, seorang guru mendapat amanah untuk menjadi wali kelas. Di kelas itu, ada bermacam-macam latar belaka...

